PENTATEUK
I. PENDAHALUAN DAN LATAR BELAKANG
Kitab Imamat adalah kitab yang sukar, dan jarang dipelajari / diajarkan. Karena itu ada banyak hal-hal yang membingungkan dan tidak dimengerti. Ini adalah kitab yang paling banyak mengandung kata-kata Allah secara langsung. Kitab ini dipenuhi dengan Injil. Kitab Imamat mempunyai teologi yang masih sah dan relevan. Pada penulisan paper ini, penulis akan menjelaskan tentang konsep kekudusan dalam kitab Imamat, di mana Kitab Imamat ini menceritakan tentang satu konsep suatu tantangan bagi umat Allah. Dimana Kitab Imamat ini adalah satu peringatan bagi kita, apa artinya menjadi umat Tuhan? Tema yang sangat indah yaitu “Konsep Kekudusan Kitab Imamat”, tema ini merupakan sebuah peringatan untuk menjaga kekudusan kita sebagai umat Allah
Kitab Imamat sering kali tidak mendapat banyak tanggapan, sering kali kitab Imamat dianggap tidak penting dan tidak menarik hati. Tetapi tidak semua orang Kristen pemikiran demikian. Meskipun kitab Imamat tidak menggelorakan semangat tetapi kita akan mendapat keuntungan jika membaca dan berusaha mengertinya. Kitab imamat memberikan antara Diri-Nya dan umat-Nya1. Nama Imamat berasal dari Septuaginta melalui terjemahan Alkitab bahasa Latin, yang memberikan judul lengkap “kitab mengenai imam-imam”. Kata “imam” lebih sering dipakai dalam kitab Imamat dari pada “Lewi”2. Kaum Lewi, yaitu para pembantu imam-imam dalam kitab Imamat kaum Lewi tidak tampil. Tidak ada nama penulis yang disebutkan dalam Kitab Imamat. Namun sebagian besar bahan tulisan diberikan oleh Allah kapada Musa di Sinai. Oleh karena itu, banyak argumen Kitab ini ditulis oleh Musa karena banyaknya tulisan dari Musa yang berasal dari Allah. Kitab ini terbagi atas 27 pasal dan merupakan kitab yang ketiga dari kitab-kitab Perjanjian Lama. Kitab Imamat pada dasarnya adalah kitab peraturan / kitab hukum-hukum yang diberikan Allah kepada umat-Nya melalui Musa di Sinai3. Isi Kitab Imamat dapat dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu: 1) Mengenai peraturan-peraturan tentang persembahan kepada Allah. Dan, 2) Peraturan di dalam kehidupan ibadah dalam persekutuan dengan-Nya4. Bagian tersebut diatas merupakan dasar untuk mengetahui garis besar Kitab Imamat. Dari bagian besar itu kita bisa membagi nya menjadi enam bagian, yaitu: 1) Mengenai Ibadah, 2) Mengenai Imam 3) Perbedaan antara yang najis dan yang tahir, 4) Upacara yang dilakukan, 5) Kekudusan, dan 6) Pembayaran Nazar5. Dengan sepintas melihat pembagian Kitab imamat diatas bahwa Kitab Imamat terlihat suatu daftar peraturan. Kitab Imamat memberikan lebih banyak perhatian tentang keagamaan dibandingkan kelima Kitab Musa. Imamat merupakan kitab yang berisi tentang peraturan-peraturan dan tugas-tugas keimaman dan panduan berisi instruksi yang menguraikan tentang ”kehidupan kudus: untuk umat Israel sebagai komunitas perjanjian6. Pertama-tama penting menekankan bahwa kehidupn kudus tidak selamanya berhubungan dengan sex, atau tindakan amoral. Gagasan dasarnya ialah kontak fisik dapat menyebabkan seorang secara ritual suci atau tidak suci.
Apa yang dimaksud dengan Kekudusan?
Banyak orang Kristen yang mengartikan kekudusan itu bersih tanpa dosa. Jika demikian berarti hanya satu yang tidak berdosa yaitu Tuhan Yesus. Kudus adalah segala sesuatu yang dikhususkan dari kebiasaan atau hal-hal yang di duniawi7. Dengan demikian kudus juga merupakan salah satu sifat dasar manusia. Jika demikian kekudusan tentunya bisa dikejar oleh setiap orang. Begitu juga dengan gereja yang dikuduskan oleh Roh Kudus, dikuatkan oleh kesaksian anggota-anggotanya yang setia. Makna dasar dari akar kata Ibrani qdsy antara lain: (i) ’menyendirikan’, (ii) ’cemerlang,8. Arti pertama mungkin menekankan kekudusan atau pengudusan dalam arti posisi atau status, dan penggunannya berkaitan dengan keadaan. Pengertian yang demikian tampak kurang memadai sehingga haruslah dijelaskan lebih lanjut. Secara hakiki, kekudusan menempatkan Allah pada tempat yang kudus. Imamat mempunyai pengertian yang bagus tentang kekudusan, ”Kamu hendaknya kudus, karena Aku Tuhan Allahmu adalah kudus”Imamat 19:2. Perintah ini menekankan tentang kelakuan sehari-hati yang terdapat ayat ini bukan dialamatkan untuk kelompok khusus tetapi untuk semua9.
Barang kali cara terbaik untuk memahami kekudusan yang alkitabiah ialah mengakui bahwa hanya Tuhan yang memilki sifat penuh misteri. Imamat menekankan bahwa kekudusan yang diperoleh dari segala yang lain tetap merupakan pengertian yang mendasar bagi orang Kristen. Orang Kristen sendiri secara status dikuduskan oleh Allah10. Kekudusan dimulai dengan mengenalnya sebagai sifat Allah. Inilah permulaan dari konsep kekudusan. Ada dua pertanyaan yan muncul dari tema kekudusan. Pertama bagaimana dosa bisa disingkirkan? Kedua, bagaimana orang dapat memelihara kekudusan untuk bisa bersekutu dengan Allah yang kudus?
Kekudusan dalam kitab Imamat ditulis dari pasal 17: sampai 26:46. Allah Israel adalah Allah yang kudus, oleh sebab itu umat yang dengan-Nya masuk dalam satu hubungan yang khusus dan harus hidup sebagai umat yang kudus. Kekudusan sangat erat sekali dengan peraturan atau hukum-hukum yang menjaga kekudusan umat. Kadang-kadang dikatakan bahwa Kitab Imamat mengemukakan hukuk-hukum upacara keagamaan Israel11. Pernyataan semacam ini haruslah didampingi dengan penelitian terhadap Kitab Imamat sebagai kumpulan hukum saja. Pengertian Kitab Imamat tentang kekudusan tidak terbatas pada pengkhususan. ”Aku adalah kudus” penggunaan seperti ini menyatakan sebagaimana yang telah diterangkan. Allah bersifat rohani dan manusia bersifat jasmani, Allah tidak kelihatan dan manusia kelihatan. Allah berada ditempat yang kudus sedangkan manusia berada diluarnya karena dosa manusia. Jikalau demikian kesempurnaan Allah secara moral menjadi bagian dari konsep kekudusan-Nya dan Ia menuntut supaya umat perjanjian-Nya menjadi kudus. Ada lima macam kudus dalam Kitab Imamat yaitu:
a.Kudusnya Perkawinan
Perkawinan adalah inisiatif dari Allah, oleh karena itu perkawinan tidak boleh ternoda. Pasal 18: 9 menjelaskan ada dua macam larangan dalam perkawinan yaitu perkawinan antara saudara sekandung dan saudara tiri. Hal menunjukkan adanya suatu perintah untuk menjaga kekudusan dalam perkawinan. Dalam Iman Kristen menyatakan bahwa manusia hanya boleh mempunyai satu isteri/ suami. Setiap suami isteri Israel menikah dengan pikiran akan mempunyai anak, terutama anak laki-laki12. Biasanya perkawinan dilambangkan dengan burung merpati yang dimana ’merpati’ mempunyai arti yaitu tulus dan setia sampai selamanya. Ada empat macam kasih, salah satunya adalah kasih eros. Kasih Eros biasanya mengungkapkan kasih antara lawan jenis. Sayang sekali kasih yang semacam ini terkadang disalahgunakan oleh beberapa orang, sehingga merendahkan nilai seks13. Kasih ini merupakan pemberian Allah bagi manusia supaya manusia dapat mengungkapkan kasihnya. Dalam hubungan perkawinan yang kudus hruslah melibatkan Roh Kudus supaya perkawinan berfungsi sesuai pada tempatnya.
b.Kudusnya Hidup
Korban adalah sarana bagi orang Israel untuk mendekati Allah. Karena Allah yang kudus itu menghedaki kita untuk hidup dalam kekudusan juga. Kekudusan Allah harus nyata dalam tata hidup segenap umat-Nya, baik para imam maupun rakyat pada umumnya14. Kecederungan manusia berbuat dosa dan salah satu halangan utama untuk hidup kudus ialah tingkat moral dan rohani15, ini akan menghalangi manusia untuk hidup kudus. Imamat 19:18, hidup kudus dalam Kitab Imamat tidak hanya semboyan biasa, tetapi hidup kudus memerlukan satu tindakan yang nyata dalam kehidupan. Roh Kudus akan terus-menerus membantu kiita untuk hidup kudus. Hidup kudus ialah menaruh seluruh hidup kita dibvawah kuasa Roh Kudus yang hendak mengkuduskan kita ”seluruhnya”(1 Tesalonika 5:23). Ini adalah suatu penyerahan diri agar semua segi kehidupan kita dipimpin oleh Roh Kudus supaya dapat menjadi dewasa rohani dab berdayaguna dlam pelayanan.
c.Kudusnya umat TUHAN
Ada hal lain yang sangat berhubungan dengan konsep ”kekudusan” yaitu ”tahir” dan ”najis”, kedua kata ini digunakan baik dalam pengertian keagamaan atau moral16. Tahir mempunyai kata dasar murni yang artinya belum tercampur. Dalam konteks Imamat tahir yang dimaksud adalah diampuni dengan sarana kurban. Jikalau kita melihat keseluruhan Kitab Imamat terdapat banyak sekali korban. Walaupun banyak korban yang dijelaskan Kitab Imamat, bagaimanapun juga, korban Kristus sudah menyebabkan kurban-kurban di Kitab Imamat sudah tidak terpakai lagi17. Hal ini menjelaskan bahwa Kristus menjadi kurban sekali untuk selamanya. Yohanes 2:2 memberitahukan bahwa Kristus adalah ”pendamaian untuk segala dosa-dosa kita”, Kitab Ibrani 9:22 menyatakan bahwa ”tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”. Kurban dan persembahan banyak dituliskan sepanjang perjanjian Lama .
Apa itu ”Korban” ?
Jika kata Korban didefinisikan maka semua pihak tidak akan puas karena setiap orang mempunyai pemahaman tentang korban yang berbeda-beda. Maka ada banyak variasi dalam menentukan makna korban. Korban dipahami sebagai persembahan kepada yang ilahi, sebagai pengganti manusia yang berdosa, atau santapan untuk dewa-dewa,dan sebagainya. Korban dalam kitab Imamat sering dinyatakan untuk ’menebus’(Imamat 1:4, dst)18. Korban salah satu kelompok kata untuk ’persembahan’ yang berasal dari kata kerja ’membawa dekat”. Tanpa memperdulikan apa yang dikorbankan Kitab Imamat menjelaskan pola tentang korban: (1) Binatang yang akan dikorbankan harus sehat karena Allah menuntut yang terbaik yang tidak bercela. (2) Orang yang memberikan persembahan harus meletakkan tangannya diatas kepala binatang korban menandakan binatang akan mati sebagai penggantinya, (3) Menyembelih binatang itu dekat dengan mezbah korban, (4) Imam memercikkan sedikit darah (5) Imam membakar semuanya atau sebagian dari binatang kurban. Menurut Imamat 7:37, ada lima korban yang termasuk dalam hukum dinyatakan Tuhan Allah kepada Musa du Gunung Sinai dan memerintahkan orang Israel mempersembahkan persembahan mereka di padang gurun Sinai. Kelima macam korban itu adalah korban bakaran, korban sajian, korban penbghapus dosa, korban penebus salah dan korban keselamatan. Kelima macam korban tersebut mempunyai tujuan yang berbeda tetapi pada intinya sama yaitu sebagai pendamaian dan ucapan syukur. Dimana tindakan pendamaian di dalam kata ini berhubungan dengan sistim persembahan untuk menyelesaikan masalah dosa atau pelanggaran. Ada beberapa istilah kurban harus diperhatikan secara khusus. ”Korban penghapus dosa” mudah dikacaukan dengan ”korban penebus salah”19. Karena kedua istilah itu sama, hal ini tertulis dalam Imamat 5:6, tetapi hubungan kedua korban tersebut kabur. Korban-korban dalam Perjanjian Lama hanya merupakan pengobatan sementara untuk dosa dan takkan pernah dapat menjadikan umat yang mempersembahkan secara sempurna, seluruh umat para imam mereka juga harus mempersembahkan korban dari tahun ke tahun.
Dosa memang merusak hubungan manusia dengan Allah dan menjadikan rintangan bagi manusia nutuk datang kepada Allah. Kitab Imamat memberikan gambaran bahwa untuk mengatasi rintangan. Hal ini merupakan sifat yang asasi dari Allah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Korban dalam Kitab Imamat mempunyai perbatasan sebab hanya bisa menghapus dosa yang tidak disengaja atau bahkan ini hanya bersifat ritual. Berbeda dengan konsep koban dalam perjanjian Baru.
Paulus menekankan bahwa Kematian Yesus di kayu salib menyatakan kebenaran dan keadilan Allah20. Penulis surat Ibrani menyatakan dengan sangat jelas adalah korban yang satu-satunya yang perlu membebaskan kita dari dosa, dan korban Tuhan Yesus bersifat kekal atau selamanya. Hal ini membuktikan bahwa Allah tidak mau manusia binasa. Oleh karena itu Kristus telah mati sebagai korban yang dipersembahkan oleh Allah untuk memenuhi tuntutan keadilan Allah yang dinyatakan untuk penyelesaian dosa manusia. Dengan demikian keberadaan manusia diperdamaikan kembali dengan Allah dan manusia melalui pengorbanan Tuhan Yesus kembali memperoleh keberadaan manusia sebelum manusia berdosa.
Korban identik dengan persembahan yang dimana ada tujuan yang hendak dicapai. Imamat 27:26 mengatakan bahwa persembahan pertama diawali dengan persembahan anak sulung diantara hewan seperti lembu, kambing atau domba yang disebut sebagai milik Tuhan. Memberikan persembahan pertama mencegah manusia untuk menjadi serakah atas segala harta Tuhan. Untuk memahami hal ini dan mendalami maksud maksud dari Persembahan Hasil Pertama adalah mencermati bagaimana jaminan yang diberikan Tuhan21. Persembahan hasil pertama, artinya jikalu seseorang bekerja, penerimaan gaji bulan pertama itulah yang dipersembahkan. Amsal 3:9-10 menjelaskan juga tentang persembahan pertama dimana Kitab Amsal tidak hanya mencatat tentang perintah untuk mempersembahkan hasil pertama tetapi juga keuntungan dari mempersembahkan dari hasil pertama. Korban meteri memang penting tetapi lebih penting dari itu adalah seluruh hidup kita haruslah juga menjadi korban yang hidup yang dipersembahkan kepada Allah.
Peranan Para Imam dan Orang Lewi
Kelancaran sistim korban tergantung pada efektifnya pelayanan keimaman yang di kuduskan, yang disahkan untuk mendekati Allah atas nama umat itu22. Musa menahbiskan para Imam dan memberikan jabatan kepadanya23. Pentahbisan dalam bahasa Ibrani berasal dari kata kerja yang berarti ’memenuhi’24. Pelayanan sebagai imam paling dihormati dan di cari-cari dalkam tugas pelayanan harian dari para imam dalam perjanjian lama ialah membakar ukupan pada mezbah di dalam tempat kudus. Keimaman dari Harun dipilih oleh untuk mempersembahkan doa, ucapan syukur dan korban dari umat Israel kepada Allah. Para Imam mewakili seluruh umat di depan Allah, memimpin upacara korban yang telah ditetapkan, mengajar hukum-hukum Tuhan kepada umat itu dan melayani Tuhan di Kemah Suci25. Saat itulah setiap orang Israel harus membawa suatu persembahan kesuatu tempat tertentu dimana seorang Lewi akan mewakili keluarganya dihadapan Allah. Mereka mulai melayani pada usia 25 tahun dan berlangsung hingga umur 50 tahun, dimana mereka memasuki masa seperti pensiun dengan tugas yang terbatas26. Kelima koban dalam Kitab Imamat dipersembahkan oleh para imam Perjanjian Lama. Tugas keimaman suku Lewi merupakan pola dibumi untuk mengajarkan carqa setiap orang Kristen melayani dan menyembah dalam roh dan kebenaran setiap hari.
Harus dimengerti bahwa para imam Perjanjian Lama hanyalah gambaran , suatu bayang-bayang dari Yesus, Imam Besar yang akan datang. Korban-korban yang dipersembahkan oleh para Imam menurut aturan Harun hanyalah perlambang dari Yesus, Anak Domba Allah yang akan menghapus dosa seisi dunia27.
Tujuan Konsep Kekudusan
Tujuan Langsung kitab ini ialah untuk menjelaskan hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang diwajibkan sebagai pedoman hidup bagi orang Israel selaku umat Tuhan. Tuhan adalah Allah yang maha kudus; merekapun juga harus menjadi umat yang kudus. Hal ini menyangkut pengasingan serta penyucian dari dosa dan kenajisan, maka peraturan-peraturan korban mendapatkan mereka dapat dikhususkan untuk pelayanan Tuhan yang telah menjadikan mereka sebagai umat-Nya sendiri.
Akan tetapi kitab Imamat bukanlah hanya kumpulan kitab yang tiada gunanya kecuali pada zamannya sendiri. Tanpa mengutahui apa isinya. Kitab Imamat menunjuk ke depan mengenai kematian Tuhan Yesus yang tidak mungkin akan bisa dimengerti. Konsep ini menetapkan peraturan-peraturan praktis maupun moral, hal yang menunjukkan bahwa Allah menaruh perhatian terhadap seluruh kehidupan umat-Nya, bukan hanya bagian keagamaan saja. Kitab Imamat menyingkapkan bahwa Tuhan Allah suci dan sempurna adanya. Segala tindakan-Nya dilakukan berdasarkan keadilan dan kasih-Nya. Hidup kudus merupakan panggilan bagi setiap orang Kristen.28 Hidup dalam kekudusan merupakan perintah Tuhan yang sendiri memgingat Tuhan adalah kudus adanya oleh karena itu kita diperintahkan untuk serupa dengan-Nya.
Daftar Pustaka
Seminari Thelogia Injili Indonesia, Kepercayaan Dan Kehidupan Kristen, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1988.
Lasor , W.S, Pengantar Perjanjian Lama 1, ( Jakarta: BPK.Gunung Mulia, 2001).
Terjemahan,Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, (Bandung : Kalam Hidup, 2002),
M. Peterson, Robert, Tafsiran Kitab Imamat, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994),
Hill, Andrew E, Survei Perjanjian Lama, (Malang : Gandum Mas, 1996.
Browning, W.R.F, Kamus Alkitab, (Jakata: Gunung Mulia, 2007.
Douglas, J.D , Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid A-L
Tong, Stephen, Pengudusan Emosi, (Surabaya: Momentum, 2007)
Packer , J.I dan Merill C. Teney, Ensiklopedi Fakta Alkitab, (Malang : Gandum Mas, 2001).
Roberts, Roger, Hidup Suci. (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2000),
Ofm, C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama, ( Yogyakarta: Kanisius, 1980
Wolf, Herbert. Pengenalan Pentateukh, (Malang: Gandum Mas, 1998),
Jian, Wiharja, Persembahan yang Baik dan Benar, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005.
Schultz, Samuel J, Pengantar Perjanjian Lama, (Malang : Gandum Mas, 1990)
Lea, Larry, Panggilan Tertinggi, (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil, 1996),
Jumat, 05 Maret 2010
PERUMPAMAAN TENTANG BIJI SESAWI DAN RAGI
MATIUS 13: 31-35
PERUMPAMAAN TENTANG BIJI SESAWI DAN RAGI
Perumpamaan biji sesawi1 dan ragi2 (Matius 13:31-35)
Pendahuluan
Banyak orang yang menafsirkan perumpamaan-perumpamaan kerajaan sorga yang diberikan Tuhan Yesus dengan cara yang kurang tepat. Hal ini terjadi kemungkinan mereka menafsirkan perumpamaan itu menurut kebutuhan mereka dan terlepas dengan konteks yang pada perumpamaan itu. Untuk memahami ”perumpamaan” kita harus mengetahui arti kata ”perumpamaan” secara umum. Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata ”perumpamaan” berarti; amsal; persamaan; perbandingan; peribahasa yang berupa perbandingan3. Namun untuk memahami apa yang Tuhan Yesus maksudkan kita juga perlu melihat dalam bahasa asli Alkitab. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan Tuhan Yesus adalah parabole (παραβολη) yang mempunyai arti ”perbandingan”, ”persamaan”, ”pertentangan” dan cerita-cerita yang mempunyai kesatuan. Dari istilah parabole inilah Tuhan Yesus hendak mengkomunikasikan kebenaran rohani yang sudah dikenal pada waktu itu. Jadi Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan adalah untuk mempermudah mengerti apa yang hendak disampaikan( Matius 13:31-35). Disamping itu tujuan Tuhan Yesus memberikan perumpamaan bukan hanya untuk menjelaskan supaya mengerti, tetapi disertai tuntutan atau respon dari pendengarnya pada waktu itu4.
B. Teks dan Konteks Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi
Perumpamaan ini ada kesamaannya dengan dua perumpamaan sebelumnya, karena di dalam ketiga perumpamaan ini disebutkan ada satu orang, ladang dan benih.5 Didalam Perjanjian Baru kita akan menemukan tiga teks tentang perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi. Pertumpamaan tersebut terdapat di Matius 13: 31-35, Markus 4:30-34 dan Lukas 13: 18-21. Ketiga perumpamaan ini diajarkan langsung oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid dan orang-orang yang berbondong-bondong mengerumuni Dia. Masing-masing penulis menyampaikan perumpamaan itu sesuai dengan tujuan dan pandangan mereka. Perumpamaan biji sesawi dan ragi merupakan sepasang perumpamaan yang tidak dapat dipisahkan. Yang satu diambil dari bidang pekerjaan pria (menabur), dan yang lain diambil dari bidang pekerjaan wanita (memasak)6. Perumpamaan ini dilatar belakangi dengan kehidupan umum di Palestina. Dimana seorang penabur biasanya menaburkan benihnya dengan cara meluas ke tanah. Sehabis menebarkan benih tersebut, baru kemudian di bajak. Kemungkinan ketika perumpamaan ini diberikan waktu itu adalah masa menabur, jadi perumpamaan tersebut diambil Tuhan Yesus dari kehidupan masyarakat pada waktu itu.7 Namun penggabungan kedua perumpamaan ini tidak terdapat dalam Injil Markus. Markus hanya mencatat tentang perumpamaan biji sesawi saja. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa Injil Markus tidak memasukan perumpamaan ragi didalamnya. Oleh karena itu kita perlu menyelidiki ketiga teks dan konteks perumpamaan biji sesawi dan ragi ini.
1.Konteks Matius
Perumpamaan siji sesawi dan ragi merupakan bagian dari ketujuh perumpamaan Tuhan Yesus tentang kerajaan Allah. Dimana perumpamaan biji sesawi dan ragi ini terletak pada bagian ketiga dan keempat dari ketujuh perumpamaan tentang kerajaan sorga yang Tuhan Yesus ajarkan. Adapun urut-urutannya sebagai berikut; perumpamaan tentang penabur (13: 1-23), perumpamaan diantara ilalang dan gandum (13:24-30), perumpamaan tentang biji sesawi (13: 31-32), perumpamaan tentang ragi (13:33), perumpamaan tentang harta yang terpendam (13:44), perumpamaan tentang mutiara yang berharga (13:46-46), dan perumpamaan tentang pukat (13:47-52)8.
Menurut Injil Matius perumpamaan mengenai kerajaan sorga ini diajarkan Tuhan Yesus ketika Ia berada di sebuah rumah, lalu Ia keluar dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Setelah itu orang datang berbondong-bondong mengeremuni Dia. Karena tempatnya tidak memungkinkan, maka Yesus naik ke perahu. Setelah Ia duduk sebagaimana biasanya orang Yahudi, lalu Ia mengajar orang banyak di situ dengan menggunakan metode perumpamaan9. Kemungkinan tempat Yesus mengajar dekat di lereng gunung sehingga mereka melihat orang-orang yang menabur benih, oleh karena itu Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan yang berhubungan dengan keadaan sekitar yang tujuan supaya orang lebih memahami karena ada contoh secara nyata10. Jadi injil Matius ini menempatkan perumpamaan ini hampir pada akhir pewartaan Injilnya yaitu ketika orang banyak hampir meninggalkan Tuhan Yesus. Dengan demikian perumpamaan tentang kerajaan sorga ini adalah peringatan terakhir bagi mereka yang akan meninggalkan Tuhan Yesus.
2.Konteks Markus
Dalam teks Markus hanya terdapat perumpamaan biji sesawi saja, sedangkan dalam teks Matius dan Lukas kita menemukan perumpamaan yang sama yaitu perumpamaan biji sesawi dan ragi. Catatan Injil Markus berbeda dengan Injil dengan catatan Injil Matius. Dimana Matius meletakkan perumpamaan biji sesawi dan ragi pada bagian ketiga dan keempat (sesudah perumpamaan tentang lalang diantara gandum) dari ketujuh perumpamaan tentang Kerajaan Surga. Sedangkan Markus meletakkannya sesudah perumpamaan benih yang tumbuh dan sebelum perumpamaan angin ribut diredakan. Jadi konteks yang ada pada Markus berbeda dengan konteks yang ada pada Matius. Sebab Markus tidak mencatat perumpamaan tentang kerajaan surga seperti yang ada pada Matius.
Perumpamaan dalam Markus berisikan tema yang sama, yaitu pernyataan yang terselubung. Itulah sebabnya Markus memuat bahan ini dalam bagian besar yang merupakan keseluruhan yaitu 3: 7- 6: 31.11 Dengan demikian perumpaman ini diberikan Tuhan Yesus waktu Ia menyingkir ke Galilea. Walaupun Yesus menghindar, orang banyak tetap saja mengikut Dia, yang mengkut Dia tidak hanya dari kapernaum saja tetapi juga dari daerah yang jauh. Ini mengambarkan bahwa semua orang dari seluruh penjuru Palestina mengikut Yesus. Disini tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit maupun orangyang kerasukan setan.12
3.Konteks Lukas
Lukas menghubungkan perumpaman biji sesawi sangat erat dengan bagian yang medahuluinya. Lukas tidak menekankan pertentangan antara benih yang kecil maupun tumbuhan yang besar itu, tetapi lebih langsung mengarahkan kepada keadaan terakhir: Kerajaan Allah adalah sebagai sebuah pohon yang cabang-cabangnya banyak burung yang bersarangnya.13 Dari Perjanjian Lama memberikan kiasan pohon itu sering digunakan yang besar dan berkuasa. Injil Lukas lebih mengarahkan pandangan kepada dunia bangsa-bangsa. Kerajaan Allah sebagai kekuatan batiniiah yangbekerja di dunia secara tersembunyi, tetapi pada akhirnya akan menimbulkan revolusi besar .14
Tujuan Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi
Tujuan perumpamaan Tuhan Yesus ini memang telah disinggung pada bagian lain, namun pada bagian ini menjelaskan tujuan yang lebih spesifik. Tuhan Yesus berbicara kepada orang yang diluar diri-Nya dengan perumpamaan bukan bermaksud untuk mengeraskan hati mereka melainkan untuk melunakkan hati mereka yang sudah mengeras. Dalam bagian ini Tuhan Yesus sengaja memakai metode perumpamaan untuk mencegah mereka yang tidak percaya akan kebenaran tentang diri-Nya dan kerajaan yang sorga yang diberitakan-Nya. Dalam perumpamaan ini para murid diingatkan bahwa apa yang secara lahiriah kelihatannya kecil namun pada dasarnya kerajaan Kristus besar.15
Dengan penjelasan diatas, sangat jelas bahwa Tuhan Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan yang lebih mudah dipahami, tetapi oleh karena kekebalan hati mereka sendiri yang menolak kehadiran Kerajaan Sorga itu dalam diri Tuhan Yesus. Jadi perumpamaan-perumpamaan ini bukan untuk mengeraskan hati mereka, tetapi mereka sendiri yang mengeraskan hati untuk menolak Kerajaan Sorga tersebut. Akhirnya bagi mereka yang menolak Yesus, perumpamaan itu akan menjadi tersembunyi dari kebenaran. Serta perumpamaan itu hanyalah menjadikan peringatan bagi mereka yang mendengar perumpamaan itu yang telah mengeraskan hatinya.
Maksud Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi
Perumpamaan ini menggambarkan akan cepat tumbuhnya Keraajaan Surga yang nampak dari luar tanpa memamerkan kekuatan sebagaimana orang Yahudi harapkan. Pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan-Nya dapat dilihat pada pertumbuhan dan perkembangan gereja sampai saat ini. Perumpamaan ini juga menggambarkan pengajaran Tuhan Yesus yang nanti maju dengan pesat16. Perbandingan antara biji sesawi dan ragi ini menjelaskan kerajaan itu datang tidak dalam bentuk yang spektakuler dan jelas, tetapi dengan suatu keadaan yang kecil dan tersembunyi.17 Sesuai dengan yang diharapkan, melainkan dalam bentuk yang kecil ini merupakan salah satu misteri tentang kerajaan sorga. Perumpamaan yang kecil itu adalah khotbah dan pelayanan pekerjaan Yesus di Galilea.18 Ini menunjukkan bahwa pelayanan Yesus mempengaruhi dunia. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Injil dengan perlahan-lahan akan menang dan berjaya, namun ini terjadi diam-diam dan tidak terasa.19
Perumpamaan ini memiliki elemen-elemen dasar yang sama dengan perumpamaan yang lebih awal, yaitu perumpamaan tentang penabur dan ilalang. Penabur sebagai orang yang memberitakan firman Allah, benih adalah Firman Allah dan ladang adalah dunia, dimana pekerjaan dari kerajaan Allah. Untuk itu kita perlu memahami dengan perumpamaan Tuhan Yesus pada Matius 13:31-35. Ada beberapa penafsir tidak setuju jikalau burung-burung dimengerti dengan orang dari segala bangsa. Pertumbuhan semacam itu tidak baik ditunjukkan dengan burung-burung yang bersarang pada cabang-cabangnya. Di dalam rangkaian perumpamaan ini burung adalah pelaku kejahatan, sebagaimana sering dipergunakan Alkitab.20
Dalam perjanjian Lama ada beberapa bagian yang menggambarkan kerajaan dunia yang berkuasa contohnya dalam Yehezkiel: 17:22-23 bagian ini berhubungan misteri kedaulatan Allah diwaktu mendatang21. Begitu juga dengan Daniel 4:10-12 yang dijelaskan pada ayatnya yang Daniel 4: 20-21.
Dalam ayatnya yang ke 33 Tuhan Yesus membandingkan Kerajaan Allah itu sperti ragi yang diambil oleh seorang wanita yang diadukkan pada tepung terigu. Dalam kehidupan orang Ibrani ragi memiliki peranan penting, tidak hanya membuat roti saja, melainkan juga dalam bidang hukum, upacara, dan agama. Ragi dibuat dari dedak halus putih dan diremas dengan bibit ragi. Namun karena cara membuat roti semakin maju, ragi dibuat dari tepung roti yang diremas tanpa garam lalu disimpan sampai timbul peragian22.
Dari sini jelas sekali bahwa sedikit ragi yang tersembunyi memilki efek yang sangat luar biasa besarnya, yaitu dapat mengkhamirkan seluruh adonan. Karena keistimewaan itulah Tuhan Yesus menggunakannya sebagai perumpamaan untuk menjelaskan proses serupa yaitu yang berkaitan tentang Kerajaan Allah yang dimulai dalam diri Tuhan Yesus. Kedua perumpamaan ini mengajarkan bahwa kedatangan kerajaan itu tidak dimulai dengan sesuatu yang spektakuler atau luar biasa, tetapi dengan sesuatu yang kecil dan seakan-akan tersembunyi. Walapun bersifat tersembunyi tak dapat dihindarkan bahwa kerajaan itu akan mempunyai pengaruh besar bagi manusia. Dengan kata lain pekerjaan atau karya Yesus adalah awal dari sebuah proses yang luar biasa, yang pada akhirnya menghasilkan pengaruh yang bermanfaat bagi Injil Tuhan Yesus.
Dalam menafsirkan perumpamaan biji sesawi dan ragi kita harus berhati-hati, supaya tidak jatuh dalam alegorisasi yang tidak bertanggung jawab, sehingga nantinya dapat mengkaburkan atau menghilangkan makna dari perumpamaan tersebut. Jika ditafsirkan secara konsisten maka dalam perumpamaan ini orang adalah lambang Kristus, ladang adalah dunia, dan benih adalah Firmannya mengisahkan tentang Kristus dan Kerajaan-Nya.23
Makna Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi Pada Masa Kini
Kerajaan Allah merupakan tema utama didalam seluruh misi dan pelayanan Yesus selama di dunia (Luk. 4:43 ; 8:1 ; 16:16). Pada mulanya pelayanan Tuhanm Yesus adalah memberitakan Injil Allah dengan mengatakan ”Waktunya telah genap, kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Markus 1:15). Sejarah gereja membuktikan kenyataan baahwa dari permulaan yang terkecil, gereja telah bertumbuh secara menakjubkan melalui pemberitaan amanat Kristus.24
Sebenarnya kita kedatangan Kerajaan Allah dalam pengajaran Tuhan Yesus bukanlah sesuatu berita yang sama sekali baru. Jika demikian, seruan Tuhan Yesus tersebut akan memiliki peranan yang sangat penting bagi orang-orang Yahudi yang mendengarkan dan dirasakan sebagai ajaran yang asing bagi orang Yahudi. Telah dijelaskan bahwa perumpamaan biji sesawi dan ragi mengajarkan tentang kedatangan dan pertumbuhan Kerajaan Sorga yang tidak dimulai dengan hal yang spektakuler. Yang dimana pertumbuhan Kerajaan-Nya ini menunjukkan pada perkembangan gerejaNya yang cepat, dari masa Pentakosta yang disertai dengan 3000 orang dibabtis.
Ketika orang Kristen hidup dalam ketaatannya kepada Tuhan, mereka pasti akan menjadi berkat bagi banyak orang melalui ketaatannya itu gereja juga telah mempengaruhi bangsa-bangsa diseluruh dunia untuk mengakui kedaulatan Allah. Dengan demikian saat kerajaan sorga itu direfleksikan dalam kehidupan orang percaya, ini akan mempengaruhi dunia secara positif. Orang Kristen yang bertumbuh harus memilki keinginan untuk menjadi berguna bagi orang lain.25 Dengan hidup taat kepada Tuhan saja orang Kristen bisa memempengaruhi dunia. Hal ini membawa kita melihat kuasa Kerajaan Allah yang luar biasa dalam hidup orang percaya. Jadi dengan demikian Injil Kerajaan Allah dapat diberitakan kapan saja dan dimana saja secara penuh. Tentu saja pada mulanya Injil itu ditolak karena kesombongan manusia dunia, bahkan Injil menjadi bahan tertawaan orang yang masih mengeraskan hatinya. Sebab mereka melihat penyampaian Injil itu melalui reputasi yang kecil, sehingga Injil tidak diterima dengan sorakan secara langsung oleh seluruh dunia. Dengan demikian oleh kuasa Allahlah Injil akhirnya dapat bertumbuh dan berkembang terus didalam dunia ini tanpa terhalangi seperti perumpamaan ragi yang mengkhamirkan seluruh adonan walau ragi yang dipakai hanya sedikit. Ini tidak berarti kita sebagai umat Allah tidak berpangku tangan saja melainkan kita juga dituntut untuk bersaksi bagi kerajaan-Nya, sehingga kerajaan-Nya itu akan menjadi berkat bagi setiap manusia, khususnya bagi mereka yang mau percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat pribadinya. Kedatangan Kerajaan Allah suatu anugerah yang datang atas kehendak Allah sendiri, namun dari manusia dituntut tanggapan positif yaitu iman dan pertobatan.26 Dengan demikian pengaruh kerajaan sorga adalah pengaruh dari kuasa Tuhan atau Firman-Nya dan pengikut-Nya yang setia bersaksi bagi Injil-Nya.
Perumpamaan biji sesawi dan ragi ini mengajarkan kepada kita untuk bersabar dalam bersaksi bagi Kristus. Injil yang diberitakan pasti akan memberikan hasil walaupun tidak secara langsung, bukan sekarang atau besok, tetapi suatu saat nanti. Yang akan dinyatakan bahwa betapa mulianya akan diselesaikan revolusi yang dijalankan Allah, sekalipun tampaknya pekerjaan Allah dimulai dengan hal kecil dan diteruskan secara tersembunyi.27 Karena itu Yesus memanggil kita untuk sabar dalam beriman dan selalu senang dan taat kepada kehendak Allah, berharap dengan sabar bahwa kehendak-Nya pasti terjadi. Jika kita tinjau dari kaitan antara Kerajaan Allah dam gereja, kita sebagai warga gereja memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat mulia yaitu :
1.Sebagai perwujudan nyata Kerajaan Allah didalam dunia ini.
2.Menyebarkan berita pengampunan dosa dan keselamatan bagi domba-domba yang terhilang.
3.Membawa umat manusia kepada persekutuan yang benar dengan Allah dan sesama.
Gereja harus giat dalam menaburkan benih Firman Tuhan, agar hati manusia dipenuhi oleh kemulian Tuhan. Giat menabur disini bukan hanya sekedar menabur saja. Injil Yang diberitakan memang baik dan berkenan dengan hal kerajaan sorga, tetapi gereja juga harus pandai memilih berita yang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh dunia. Artinya pada saat itu apa yang menjadi titik utama atau tujuan pemberitaan, agar manusia mengerti hal Kerajaan Sorga. Jadi sebagai gereja tidak asal menabur saja tetapi juga harus disertai dengan hikmat dari Allah untuk memberitakan Injil Kerajaan Sorga. Dengan demikian Kerajaan Sorga semakin bertumbuh dan berkembang, dan kekuasaan Kerajaan Sorga tersebut akan diperluas didunia.
Kesimpulan
Melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi ini Tuhan Yesus mengingatkan bahwa sebagai gereja-Nya menumbuhkan dan mengembangkan dan menyebarkan Injil Kerajaan Sorga di dunia. Dunia telah kehilangan kasih Allah, karena itu kita harus berusaha membawa setiap orang untuk datang kepada kerajaan-Nya sehingga mereka menikmati berkat anugrah Allah yang besar dan melaluinya banyak jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus. Yesus memangil kita untuk sabar dan bijaksana serta tanggung jawab dalam bersaksi bagi Injil-Nya. Ini berati sabar dalam beriman, berdoa, bekerja dan selalu setia kepada kehendak-Nya. Kita harus yakin Yesus akan memberikan yang terbaik bagi manusia, khususnya bagi mereka yang telah membuka hatinya untuk menerima Tuhan Yesus sebagai sebagai Juru Selamat pribadinya.
Jadi gereja dan orang Kristen harus memiliki kesaksian hidup yang benar, supaya hidup kita memancarkan terang Kristus bagi dunia yang gelap. Dengan cara demikianlah Kerajaan sorga akan bertumbuh danberkembang didalam dunia. Dan kerajaan-Nya menjadi berkat bagi manusia, khususnya mereka yang percaya.
Daftar Pustaka
Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia
Boland,B.J dan P.S Nainopos, Injil Lukas, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996
Bolkestein M.H, Kerajaan yang Terselubung, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1991
Charles Pfeiffer, and Everett F. Horrison, The Wyclife Bible Commentary, Malang : Gandum Mas, 2001
Donald C Stamps, Alkitab Penuntun Hidup berkelimpahan, Malang : Gandum Mas, 1996
Donald Guthrie dan rekan-rekan, Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1996
Davies W.D, The International Critical Commentary Vol II, Matthew, Edinburg: T&T Clark, 1989
Dianne Bergant, dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002
J.J De Herr, Tarsiran Injil Matius, (Jakarta : BPK Gunung Mulia,1994
J.D. Douglas, “Ragi” Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF,1995
H Bavink, Sejarah Kerajaan Allah Jilid II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982
H.A Ironsides , Tafsiran Injil Markus, Surabaya: Yakin, n.d
R.A Jaffray, Perunpamaan Tuhan Yesus, Bandung: Grafika Unit II, 1968
Water W, Wassel and William L. Lane , “Mark”. in The NIV Study Bible, Grand Rapids : Zondervan Publishing House, 1985
Henry, Matthew, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 1-14, Surabaya : Momentum, 2007
Suryana, Agus Gunadi, Datanglah KerajaanMu, Yogayakarta : Kanisius, 1997
Wenham David, The Parable of Jesus. London: Hodder & Stoughton, 1989
W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : PN BALAI PUSTAKA, 1984
.
PERUMPAMAAN TENTANG BIJI SESAWI DAN RAGI
Perumpamaan biji sesawi1 dan ragi2 (Matius 13:31-35)
Pendahuluan
Banyak orang yang menafsirkan perumpamaan-perumpamaan kerajaan sorga yang diberikan Tuhan Yesus dengan cara yang kurang tepat. Hal ini terjadi kemungkinan mereka menafsirkan perumpamaan itu menurut kebutuhan mereka dan terlepas dengan konteks yang pada perumpamaan itu. Untuk memahami ”perumpamaan” kita harus mengetahui arti kata ”perumpamaan” secara umum. Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata ”perumpamaan” berarti; amsal; persamaan; perbandingan; peribahasa yang berupa perbandingan3. Namun untuk memahami apa yang Tuhan Yesus maksudkan kita juga perlu melihat dalam bahasa asli Alkitab. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan Tuhan Yesus adalah parabole (παραβολη) yang mempunyai arti ”perbandingan”, ”persamaan”, ”pertentangan” dan cerita-cerita yang mempunyai kesatuan. Dari istilah parabole inilah Tuhan Yesus hendak mengkomunikasikan kebenaran rohani yang sudah dikenal pada waktu itu. Jadi Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan adalah untuk mempermudah mengerti apa yang hendak disampaikan( Matius 13:31-35). Disamping itu tujuan Tuhan Yesus memberikan perumpamaan bukan hanya untuk menjelaskan supaya mengerti, tetapi disertai tuntutan atau respon dari pendengarnya pada waktu itu4.
B. Teks dan Konteks Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi
Perumpamaan ini ada kesamaannya dengan dua perumpamaan sebelumnya, karena di dalam ketiga perumpamaan ini disebutkan ada satu orang, ladang dan benih.5 Didalam Perjanjian Baru kita akan menemukan tiga teks tentang perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi. Pertumpamaan tersebut terdapat di Matius 13: 31-35, Markus 4:30-34 dan Lukas 13: 18-21. Ketiga perumpamaan ini diajarkan langsung oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid dan orang-orang yang berbondong-bondong mengerumuni Dia. Masing-masing penulis menyampaikan perumpamaan itu sesuai dengan tujuan dan pandangan mereka. Perumpamaan biji sesawi dan ragi merupakan sepasang perumpamaan yang tidak dapat dipisahkan. Yang satu diambil dari bidang pekerjaan pria (menabur), dan yang lain diambil dari bidang pekerjaan wanita (memasak)6. Perumpamaan ini dilatar belakangi dengan kehidupan umum di Palestina. Dimana seorang penabur biasanya menaburkan benihnya dengan cara meluas ke tanah. Sehabis menebarkan benih tersebut, baru kemudian di bajak. Kemungkinan ketika perumpamaan ini diberikan waktu itu adalah masa menabur, jadi perumpamaan tersebut diambil Tuhan Yesus dari kehidupan masyarakat pada waktu itu.7 Namun penggabungan kedua perumpamaan ini tidak terdapat dalam Injil Markus. Markus hanya mencatat tentang perumpamaan biji sesawi saja. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa Injil Markus tidak memasukan perumpamaan ragi didalamnya. Oleh karena itu kita perlu menyelidiki ketiga teks dan konteks perumpamaan biji sesawi dan ragi ini.
1.Konteks Matius
Perumpamaan siji sesawi dan ragi merupakan bagian dari ketujuh perumpamaan Tuhan Yesus tentang kerajaan Allah. Dimana perumpamaan biji sesawi dan ragi ini terletak pada bagian ketiga dan keempat dari ketujuh perumpamaan tentang kerajaan sorga yang Tuhan Yesus ajarkan. Adapun urut-urutannya sebagai berikut; perumpamaan tentang penabur (13: 1-23), perumpamaan diantara ilalang dan gandum (13:24-30), perumpamaan tentang biji sesawi (13: 31-32), perumpamaan tentang ragi (13:33), perumpamaan tentang harta yang terpendam (13:44), perumpamaan tentang mutiara yang berharga (13:46-46), dan perumpamaan tentang pukat (13:47-52)8.
Menurut Injil Matius perumpamaan mengenai kerajaan sorga ini diajarkan Tuhan Yesus ketika Ia berada di sebuah rumah, lalu Ia keluar dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Setelah itu orang datang berbondong-bondong mengeremuni Dia. Karena tempatnya tidak memungkinkan, maka Yesus naik ke perahu. Setelah Ia duduk sebagaimana biasanya orang Yahudi, lalu Ia mengajar orang banyak di situ dengan menggunakan metode perumpamaan9. Kemungkinan tempat Yesus mengajar dekat di lereng gunung sehingga mereka melihat orang-orang yang menabur benih, oleh karena itu Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan yang berhubungan dengan keadaan sekitar yang tujuan supaya orang lebih memahami karena ada contoh secara nyata10. Jadi injil Matius ini menempatkan perumpamaan ini hampir pada akhir pewartaan Injilnya yaitu ketika orang banyak hampir meninggalkan Tuhan Yesus. Dengan demikian perumpamaan tentang kerajaan sorga ini adalah peringatan terakhir bagi mereka yang akan meninggalkan Tuhan Yesus.
2.Konteks Markus
Dalam teks Markus hanya terdapat perumpamaan biji sesawi saja, sedangkan dalam teks Matius dan Lukas kita menemukan perumpamaan yang sama yaitu perumpamaan biji sesawi dan ragi. Catatan Injil Markus berbeda dengan Injil dengan catatan Injil Matius. Dimana Matius meletakkan perumpamaan biji sesawi dan ragi pada bagian ketiga dan keempat (sesudah perumpamaan tentang lalang diantara gandum) dari ketujuh perumpamaan tentang Kerajaan Surga. Sedangkan Markus meletakkannya sesudah perumpamaan benih yang tumbuh dan sebelum perumpamaan angin ribut diredakan. Jadi konteks yang ada pada Markus berbeda dengan konteks yang ada pada Matius. Sebab Markus tidak mencatat perumpamaan tentang kerajaan surga seperti yang ada pada Matius.
Perumpamaan dalam Markus berisikan tema yang sama, yaitu pernyataan yang terselubung. Itulah sebabnya Markus memuat bahan ini dalam bagian besar yang merupakan keseluruhan yaitu 3: 7- 6: 31.11 Dengan demikian perumpaman ini diberikan Tuhan Yesus waktu Ia menyingkir ke Galilea. Walaupun Yesus menghindar, orang banyak tetap saja mengikut Dia, yang mengkut Dia tidak hanya dari kapernaum saja tetapi juga dari daerah yang jauh. Ini mengambarkan bahwa semua orang dari seluruh penjuru Palestina mengikut Yesus. Disini tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit maupun orangyang kerasukan setan.12
3.Konteks Lukas
Lukas menghubungkan perumpaman biji sesawi sangat erat dengan bagian yang medahuluinya. Lukas tidak menekankan pertentangan antara benih yang kecil maupun tumbuhan yang besar itu, tetapi lebih langsung mengarahkan kepada keadaan terakhir: Kerajaan Allah adalah sebagai sebuah pohon yang cabang-cabangnya banyak burung yang bersarangnya.13 Dari Perjanjian Lama memberikan kiasan pohon itu sering digunakan yang besar dan berkuasa. Injil Lukas lebih mengarahkan pandangan kepada dunia bangsa-bangsa. Kerajaan Allah sebagai kekuatan batiniiah yangbekerja di dunia secara tersembunyi, tetapi pada akhirnya akan menimbulkan revolusi besar .14
Tujuan Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi
Tujuan perumpamaan Tuhan Yesus ini memang telah disinggung pada bagian lain, namun pada bagian ini menjelaskan tujuan yang lebih spesifik. Tuhan Yesus berbicara kepada orang yang diluar diri-Nya dengan perumpamaan bukan bermaksud untuk mengeraskan hati mereka melainkan untuk melunakkan hati mereka yang sudah mengeras. Dalam bagian ini Tuhan Yesus sengaja memakai metode perumpamaan untuk mencegah mereka yang tidak percaya akan kebenaran tentang diri-Nya dan kerajaan yang sorga yang diberitakan-Nya. Dalam perumpamaan ini para murid diingatkan bahwa apa yang secara lahiriah kelihatannya kecil namun pada dasarnya kerajaan Kristus besar.15
Dengan penjelasan diatas, sangat jelas bahwa Tuhan Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan yang lebih mudah dipahami, tetapi oleh karena kekebalan hati mereka sendiri yang menolak kehadiran Kerajaan Sorga itu dalam diri Tuhan Yesus. Jadi perumpamaan-perumpamaan ini bukan untuk mengeraskan hati mereka, tetapi mereka sendiri yang mengeraskan hati untuk menolak Kerajaan Sorga tersebut. Akhirnya bagi mereka yang menolak Yesus, perumpamaan itu akan menjadi tersembunyi dari kebenaran. Serta perumpamaan itu hanyalah menjadikan peringatan bagi mereka yang mendengar perumpamaan itu yang telah mengeraskan hatinya.
Maksud Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi
Perumpamaan ini menggambarkan akan cepat tumbuhnya Keraajaan Surga yang nampak dari luar tanpa memamerkan kekuatan sebagaimana orang Yahudi harapkan. Pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan-Nya dapat dilihat pada pertumbuhan dan perkembangan gereja sampai saat ini. Perumpamaan ini juga menggambarkan pengajaran Tuhan Yesus yang nanti maju dengan pesat16. Perbandingan antara biji sesawi dan ragi ini menjelaskan kerajaan itu datang tidak dalam bentuk yang spektakuler dan jelas, tetapi dengan suatu keadaan yang kecil dan tersembunyi.17 Sesuai dengan yang diharapkan, melainkan dalam bentuk yang kecil ini merupakan salah satu misteri tentang kerajaan sorga. Perumpamaan yang kecil itu adalah khotbah dan pelayanan pekerjaan Yesus di Galilea.18 Ini menunjukkan bahwa pelayanan Yesus mempengaruhi dunia. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Injil dengan perlahan-lahan akan menang dan berjaya, namun ini terjadi diam-diam dan tidak terasa.19
Perumpamaan ini memiliki elemen-elemen dasar yang sama dengan perumpamaan yang lebih awal, yaitu perumpamaan tentang penabur dan ilalang. Penabur sebagai orang yang memberitakan firman Allah, benih adalah Firman Allah dan ladang adalah dunia, dimana pekerjaan dari kerajaan Allah. Untuk itu kita perlu memahami dengan perumpamaan Tuhan Yesus pada Matius 13:31-35. Ada beberapa penafsir tidak setuju jikalau burung-burung dimengerti dengan orang dari segala bangsa. Pertumbuhan semacam itu tidak baik ditunjukkan dengan burung-burung yang bersarang pada cabang-cabangnya. Di dalam rangkaian perumpamaan ini burung adalah pelaku kejahatan, sebagaimana sering dipergunakan Alkitab.20
Dalam perjanjian Lama ada beberapa bagian yang menggambarkan kerajaan dunia yang berkuasa contohnya dalam Yehezkiel: 17:22-23 bagian ini berhubungan misteri kedaulatan Allah diwaktu mendatang21. Begitu juga dengan Daniel 4:10-12 yang dijelaskan pada ayatnya yang Daniel 4: 20-21.
Dalam ayatnya yang ke 33 Tuhan Yesus membandingkan Kerajaan Allah itu sperti ragi yang diambil oleh seorang wanita yang diadukkan pada tepung terigu. Dalam kehidupan orang Ibrani ragi memiliki peranan penting, tidak hanya membuat roti saja, melainkan juga dalam bidang hukum, upacara, dan agama. Ragi dibuat dari dedak halus putih dan diremas dengan bibit ragi. Namun karena cara membuat roti semakin maju, ragi dibuat dari tepung roti yang diremas tanpa garam lalu disimpan sampai timbul peragian22.
Dari sini jelas sekali bahwa sedikit ragi yang tersembunyi memilki efek yang sangat luar biasa besarnya, yaitu dapat mengkhamirkan seluruh adonan. Karena keistimewaan itulah Tuhan Yesus menggunakannya sebagai perumpamaan untuk menjelaskan proses serupa yaitu yang berkaitan tentang Kerajaan Allah yang dimulai dalam diri Tuhan Yesus. Kedua perumpamaan ini mengajarkan bahwa kedatangan kerajaan itu tidak dimulai dengan sesuatu yang spektakuler atau luar biasa, tetapi dengan sesuatu yang kecil dan seakan-akan tersembunyi. Walapun bersifat tersembunyi tak dapat dihindarkan bahwa kerajaan itu akan mempunyai pengaruh besar bagi manusia. Dengan kata lain pekerjaan atau karya Yesus adalah awal dari sebuah proses yang luar biasa, yang pada akhirnya menghasilkan pengaruh yang bermanfaat bagi Injil Tuhan Yesus.
Dalam menafsirkan perumpamaan biji sesawi dan ragi kita harus berhati-hati, supaya tidak jatuh dalam alegorisasi yang tidak bertanggung jawab, sehingga nantinya dapat mengkaburkan atau menghilangkan makna dari perumpamaan tersebut. Jika ditafsirkan secara konsisten maka dalam perumpamaan ini orang adalah lambang Kristus, ladang adalah dunia, dan benih adalah Firmannya mengisahkan tentang Kristus dan Kerajaan-Nya.23
Makna Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi Pada Masa Kini
Kerajaan Allah merupakan tema utama didalam seluruh misi dan pelayanan Yesus selama di dunia (Luk. 4:43 ; 8:1 ; 16:16). Pada mulanya pelayanan Tuhanm Yesus adalah memberitakan Injil Allah dengan mengatakan ”Waktunya telah genap, kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Markus 1:15). Sejarah gereja membuktikan kenyataan baahwa dari permulaan yang terkecil, gereja telah bertumbuh secara menakjubkan melalui pemberitaan amanat Kristus.24
Sebenarnya kita kedatangan Kerajaan Allah dalam pengajaran Tuhan Yesus bukanlah sesuatu berita yang sama sekali baru. Jika demikian, seruan Tuhan Yesus tersebut akan memiliki peranan yang sangat penting bagi orang-orang Yahudi yang mendengarkan dan dirasakan sebagai ajaran yang asing bagi orang Yahudi. Telah dijelaskan bahwa perumpamaan biji sesawi dan ragi mengajarkan tentang kedatangan dan pertumbuhan Kerajaan Sorga yang tidak dimulai dengan hal yang spektakuler. Yang dimana pertumbuhan Kerajaan-Nya ini menunjukkan pada perkembangan gerejaNya yang cepat, dari masa Pentakosta yang disertai dengan 3000 orang dibabtis.
Ketika orang Kristen hidup dalam ketaatannya kepada Tuhan, mereka pasti akan menjadi berkat bagi banyak orang melalui ketaatannya itu gereja juga telah mempengaruhi bangsa-bangsa diseluruh dunia untuk mengakui kedaulatan Allah. Dengan demikian saat kerajaan sorga itu direfleksikan dalam kehidupan orang percaya, ini akan mempengaruhi dunia secara positif. Orang Kristen yang bertumbuh harus memilki keinginan untuk menjadi berguna bagi orang lain.25 Dengan hidup taat kepada Tuhan saja orang Kristen bisa memempengaruhi dunia. Hal ini membawa kita melihat kuasa Kerajaan Allah yang luar biasa dalam hidup orang percaya. Jadi dengan demikian Injil Kerajaan Allah dapat diberitakan kapan saja dan dimana saja secara penuh. Tentu saja pada mulanya Injil itu ditolak karena kesombongan manusia dunia, bahkan Injil menjadi bahan tertawaan orang yang masih mengeraskan hatinya. Sebab mereka melihat penyampaian Injil itu melalui reputasi yang kecil, sehingga Injil tidak diterima dengan sorakan secara langsung oleh seluruh dunia. Dengan demikian oleh kuasa Allahlah Injil akhirnya dapat bertumbuh dan berkembang terus didalam dunia ini tanpa terhalangi seperti perumpamaan ragi yang mengkhamirkan seluruh adonan walau ragi yang dipakai hanya sedikit. Ini tidak berarti kita sebagai umat Allah tidak berpangku tangan saja melainkan kita juga dituntut untuk bersaksi bagi kerajaan-Nya, sehingga kerajaan-Nya itu akan menjadi berkat bagi setiap manusia, khususnya bagi mereka yang mau percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat pribadinya. Kedatangan Kerajaan Allah suatu anugerah yang datang atas kehendak Allah sendiri, namun dari manusia dituntut tanggapan positif yaitu iman dan pertobatan.26 Dengan demikian pengaruh kerajaan sorga adalah pengaruh dari kuasa Tuhan atau Firman-Nya dan pengikut-Nya yang setia bersaksi bagi Injil-Nya.
Perumpamaan biji sesawi dan ragi ini mengajarkan kepada kita untuk bersabar dalam bersaksi bagi Kristus. Injil yang diberitakan pasti akan memberikan hasil walaupun tidak secara langsung, bukan sekarang atau besok, tetapi suatu saat nanti. Yang akan dinyatakan bahwa betapa mulianya akan diselesaikan revolusi yang dijalankan Allah, sekalipun tampaknya pekerjaan Allah dimulai dengan hal kecil dan diteruskan secara tersembunyi.27 Karena itu Yesus memanggil kita untuk sabar dalam beriman dan selalu senang dan taat kepada kehendak Allah, berharap dengan sabar bahwa kehendak-Nya pasti terjadi. Jika kita tinjau dari kaitan antara Kerajaan Allah dam gereja, kita sebagai warga gereja memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat mulia yaitu :
1.Sebagai perwujudan nyata Kerajaan Allah didalam dunia ini.
2.Menyebarkan berita pengampunan dosa dan keselamatan bagi domba-domba yang terhilang.
3.Membawa umat manusia kepada persekutuan yang benar dengan Allah dan sesama.
Gereja harus giat dalam menaburkan benih Firman Tuhan, agar hati manusia dipenuhi oleh kemulian Tuhan. Giat menabur disini bukan hanya sekedar menabur saja. Injil Yang diberitakan memang baik dan berkenan dengan hal kerajaan sorga, tetapi gereja juga harus pandai memilih berita yang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh dunia. Artinya pada saat itu apa yang menjadi titik utama atau tujuan pemberitaan, agar manusia mengerti hal Kerajaan Sorga. Jadi sebagai gereja tidak asal menabur saja tetapi juga harus disertai dengan hikmat dari Allah untuk memberitakan Injil Kerajaan Sorga. Dengan demikian Kerajaan Sorga semakin bertumbuh dan berkembang, dan kekuasaan Kerajaan Sorga tersebut akan diperluas didunia.
Kesimpulan
Melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi ini Tuhan Yesus mengingatkan bahwa sebagai gereja-Nya menumbuhkan dan mengembangkan dan menyebarkan Injil Kerajaan Sorga di dunia. Dunia telah kehilangan kasih Allah, karena itu kita harus berusaha membawa setiap orang untuk datang kepada kerajaan-Nya sehingga mereka menikmati berkat anugrah Allah yang besar dan melaluinya banyak jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus. Yesus memangil kita untuk sabar dan bijaksana serta tanggung jawab dalam bersaksi bagi Injil-Nya. Ini berati sabar dalam beriman, berdoa, bekerja dan selalu setia kepada kehendak-Nya. Kita harus yakin Yesus akan memberikan yang terbaik bagi manusia, khususnya bagi mereka yang telah membuka hatinya untuk menerima Tuhan Yesus sebagai sebagai Juru Selamat pribadinya.
Jadi gereja dan orang Kristen harus memiliki kesaksian hidup yang benar, supaya hidup kita memancarkan terang Kristus bagi dunia yang gelap. Dengan cara demikianlah Kerajaan sorga akan bertumbuh danberkembang didalam dunia. Dan kerajaan-Nya menjadi berkat bagi manusia, khususnya mereka yang percaya.
Daftar Pustaka
Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia
Boland,B.J dan P.S Nainopos, Injil Lukas, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996
Bolkestein M.H, Kerajaan yang Terselubung, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1991
Charles Pfeiffer, and Everett F. Horrison, The Wyclife Bible Commentary, Malang : Gandum Mas, 2001
Donald C Stamps, Alkitab Penuntun Hidup berkelimpahan, Malang : Gandum Mas, 1996
Donald Guthrie dan rekan-rekan, Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1996
Davies W.D, The International Critical Commentary Vol II, Matthew, Edinburg: T&T Clark, 1989
Dianne Bergant, dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002
J.J De Herr, Tarsiran Injil Matius, (Jakarta : BPK Gunung Mulia,1994
J.D. Douglas, “Ragi” Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF,1995
H Bavink, Sejarah Kerajaan Allah Jilid II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982
H.A Ironsides , Tafsiran Injil Markus, Surabaya: Yakin, n.d
R.A Jaffray, Perunpamaan Tuhan Yesus, Bandung: Grafika Unit II, 1968
Water W, Wassel and William L. Lane , “Mark”. in The NIV Study Bible, Grand Rapids : Zondervan Publishing House, 1985
Henry, Matthew, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 1-14, Surabaya : Momentum, 2007
Suryana, Agus Gunadi, Datanglah KerajaanMu, Yogayakarta : Kanisius, 1997
Wenham David, The Parable of Jesus. London: Hodder & Stoughton, 1989
W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : PN BALAI PUSTAKA, 1984
.
Langganan:
Komentar (Atom)